Tukang Sodomi ditangkap – Kyai pati

 Tapanuli Selatan: Penangkapan terhadap pelaku sodomi Samsul Anwar Harahap menguak fakta baru. Pria asal Desa Janji Manaon, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel, Sumut, itu juga memangsa beberapa bocah di Jakarta.
“Aksi sodomi yang dilakukan Samsul terjadi mulai tahun 2004. Awalnya, melakukan aksi pencabulan terhadap lima anak di Jakarta Timur. Tapi dia mengaku tidak ingat identitas korbannya,” ujar Kapolres Tapsel AKBP Rony Samtama ketika dikonfirmasi, Senin 20 Maret 2017.
Samsul berada di Ibu Kota Negara selama dua tahun sebelum akhirnya pindah ke Semarang, pati Jawa Tengah, pada 2006. “Dia di Semarang hingga 2011, mengaku tidak melakukan perbuatan cabul,” katanya.
Pertengahan 2011, Samsul pindah ke Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Samsul di sana hingga 2013. Di situ, dia menyodomi tujuh bocah.
Setelah itu, karena tidak lagi bekerja, Samsul pulang kampung pada tahun 2013. Di sinilah ia melakukan perbuatan cabul terhadap korbannya sebanyak 30 anak. Perbuatan itu dilakukannya dalam rentang waktu empat tahun.
“Jadi total korbannya itu ada 42 anak,” imbuh Rony.
Atas perbuatannya Samsul dijerat Pasal 82 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. “Ancamannya maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya.
The post Tukang Sodomi ditangkap – Kyai pati appeared first on tabloidpati.top.

Powered by WPeMatico

Kasus sodomi yang menyeret kyai

Kasus sodomi yang menyeret kyai Salimuddin bin Nahrawi warga Dusun Murasen, Desa Pasongsongan Sumenep AKN sudah dilimpahkan ke kejaksaan negeri (kejari) Sumenep. Berkas kasus tersebut sudah dinyatakan lengkap alias P21 oleh jaksa penuntut umum (JPU). AKN
Sementara tersangka juga sudah dilimpahkan oleh Polres ke kejari., dan oleh tim Kejari langsung dititipkan di rumah tahanan (rutan) kelas II B Sumenep. “Berkas dan tersangka sudah dilimpahkan ke jaksa. Dan, kami nyatakan berkasnya pati sudah lengkap,” kata Kasi Pidum Ricky Andi F. kyai AKN

Dia mengungkapkan, pihaknya tinggal memproses tersangka ke pengadilan untuk disidangkan. “Nanti akan segera kami proses ke PN agar segera disidangkan. Masalah waktu ya tergantung kepada hakim pengadilan,” ucapnya.
Menurut Ricky, atas perbuatan yang dilakukan tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat 1 dan pasal 82 ayat 2 dengan undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara.
Salimuddin   kiai yang kabarnya sebagai tokoh masyarakat ditangkap polisi beberapa waktu lalu. Itu setelah polisi mendapatkan laporan dari jika Salimuddin kiai melakukan sodomi terhadap anak di bawah umur yang diduga santrinya. Bahkan, kejadian tersebut digerebek wali. Korbannya sebanyak 6 orang. yas / AKN

Powered by WPeMatico

Puluhan Siswa Korban Pelecehan sodomi melapor

Buronan kasus sodomi, Teguh Umbartono alias Pakde (40) warga Pati, Jawa Tengah (Jateng) tewas bunuh diri saat dibawa aparat Polda DIY dari Pati ke Yogya, Selasa (23/8). Pakde nekat menusukkan pisau ke perutnya saat mobil polisi berhenti di wilayah Magelang. Ia kemudian mengembuskan nafas terakhir saat dibawa ke rumah sakit.
Kapolses Sleman AKBP Yulianto didampingi Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pujiastuti kiai mengatakan, Pakde kyai ditetapkan sebagai tersangka dugaan sodomi pada empat bulan silam. Begitu tahu dirinya dilaporkan, tersangka langsung melarikan diri.
“Ada sekitar 30 orang lebih jadi korban. Tapi yang melapor baru tiga orang, selebihnya mau melapor setelah pelaku tertangkap,” katanya.
Dijelaskan Kapolres, aksi cabul pelaku dilakukan sekitar satu tahun hingga dua tahun lalu. Korban rata-rata merupakan pelajar SMA dan mahasiswa. Setelah empat bulan melakukan penyelidikan, kata Kapolres Sleman, polisi mengendus keberadaan tersangka di wilayah Pati. Tim kyai gabungan dari Polres Sleman dan Polda DIY kemudian memburu Pakde pada Senin (22/8) pagi. Dia pun berhasil dibekuk dan langsung dibawa ke Yogya menggunakan mobil.
Kemarin pagi sekitar pukul 03.00, polisi yang membawa tersangka sampai di Magelang. Saat itu tersangka mengeluh haus, kemudian oleh petugas dibelikan minum. Mobil kemudian berhenti di SPBU Sambung di daerah Payaman, Kecamatan Secang, Magelang. Kemudian petugas membelikan minum di sebuah warung. Namun sekembalinya dari warung, petugas mendapati tersangka sudah menusukkan pisau ke dalam perutnya.
“Pisau itu milik pelaku sendiri yang diamankan bersamaan dan dijadikan barang bukti,” ujar AKBP Yulianto.
Melihat tersangka bersimbah darah, polisi lantas membawa Pakde ke RSUD dr Soeroyo, Kota Magelang dan dirujuk ke RSUP dr Sardjito Yogyakarta.  Namun sesampainya di Yogya, tersangka dinyatakan sudah tewas.
“Penangkapan dilakukan oleh 11 anggota dari kiai Tim Satreskrim Polres Sleman serta Tim Opsnal dari Polda DIY sejak Senin (22/8). Saat itu petugas membawa tiga buah mobil, tersangka dan barang bukti dijadikan dalam satu mobil dikawal empat orang petugas,” kata Kapolres Sleman.
Kapolres menduga pelaku nekat mengakhiri hidupnya dengan memanfaatkan kelengahan petugas. Tersangka mengambil pisau yang merupakan salah satu barang bukti kemudian menusukkan ke perut. “Kami belum tahu pelaku meninggal di lokasi kejadian atau saat di rumah sakit. Proses detailnya seperti apa masih diselidiki. Saat ini masih dilakukan otopsi di RS Sarjito,” ujar Kapolres. Hingga semalam, polisi masih memeriksa sejumlah saksi kejadian ini. Termasuk anggota reserse yang ikut menangkap tersangka dari Pati

Powered by WPeMatico

Sodomi Santri Guru Ngaji ditangkap

Sebenarnya, kabar Alimuddin kyai, 50, suka menyodomi muridnya sudah lama terdengar dari mulut ke mulut. Tetapi, warga tidak memercayainya. Sebab, yang tinggal di Dusun Sumur Asin, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, itu diketahui sebagai guru ngaji di lingkungannya.
 

Warga pati baru percaya setelah memergoki langsung Alimuddin sedang menyodomi muridnya berinisial AG, 16. Tak ayal, selain menggerebek pelaku, para orang tua korban juga melaporkan anggota BPD Pasongsongan itu ke polisi.
Karena mendapat laporan, anggota Polsek Pasongsongan akhirnya menangkap Alimuddin di rumahnya, Kamis malam (11/2). Sementara pelaku dikirim ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Sumenep.
”Setelah diinterogasi sebentar di mapolsek, pelaku langsung dibawa ke Polres Sumenep,” kata Kepala Desa (Kades) Pasongsongan Rasit Busanto kepada wartawan.
Dikonfirmasi, Kasubag Humas Polres Sumenep AKP Hasanuddin membenarkan mendapat pelimpahan pelaku sodomi anak di bawah umur dari Polsek Pasongsongan. Hasan menjelaskan, pihaknya menahan Salimuddin alias Alimuddin karena menerima laporan resmi dari para orang tua korban.
”Ada lima orang yang melapor, yaitu orang tua korban berinisial AAG, MRF, AM, GS, dan ZH. Pelapor juga menyerahkan barang bukti berupa pakaian kelima korban,” jelasnya kemarin (12/2).
Selain barang bukti pakaian korban, lanjut Hasanuddin, akan ada bukti visum yang akan dikeluarkan oleh petugas medis. ”Nanti akan kami lengkapi dengan bukti visum,” tambahnya.
Penyidik PPA juga sudah meminta keterangan empat korban beserta orang tuanya. Tinggal satu korban lagi yang belum dimintai keterangan.
Kemungkinan, lanjut mantan Kapolsek Manding itu, masih banyak korban lainnya yang tidak melapor. Sebab, pengakuan pelaku kepada penyidik, perilaku menyimpang itu sudah lama dia lakukan.
Namun, baru terungkap di balai desa beberapa waktu lalu. Setelah ini, Polres Sumenep akan mengorek keterangan, baik kepada korban maupun tersangka dan keluarganya.
”Nanti akan kami kembangkan,” janjinya.
Kepada penyidik, bapak dua anak tersebut mengatakan, murid yang disodomi berusia 14 hingga 17 tahun. Ada yang disodomi satu kali, ada juga yang berkali-kali.
Tiap kali mau melakukan aksi abnormalnya itu, Alimuddin merayu korban dengan iming-iming uang dan rokok. Setelah korban berhasil dirayu, pelaku mengajak korbannya itu bermalam di kamarnya dan disodomi.
Akibat perbuatannya, Alimuddin terancam Pasal 81 dan 82 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan UU No 35 Tahun 2014. Ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara. Denda minimal Rp 60 juta dan maksimal Rp 300 juta.
Sementara berdasar KUHP, hukuman bagi pelaku pencabulan terhadap anak dijerat Pasal 287 dengan maksimal hukuman 9 tahun penjara dan Pasal 292 maksimal 5 tahun penjara pati

Powered by WPeMatico

Tersangka Sodomi Bunuh Diri

Tersangka Sodomi Bunuh Diri di Mobil Polisi

Jenazah tersangka kasus sodomi saat sampai di RS Sardjito untuk dilakukan proses autopsi, Selasa (23/8/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian kiai pati)
 Kasus pencabulan Jogja terjadi, pelakunya tertangkap namun bunuh diri

Pati – Tersangka kasus Sodomi bernama Teguh Umbartono alias Agus Kaligis warga Pati, Jawa tengah nekat bunuh diri saat petugas kepolisian menangkap dirinya Selasa (23/8/2016).
Tersangka pelaku sodomi ini pada bulan Mei lalu dilaporkan oleh beberapa korban yang sebagian besar adalah pelajar laki-laki Sekolah Menengah Atas di daerah Sleman.
Setelah mengetahui keberadaan tersangka, kemudian petugas mengamankan pelaku pada Senin (22/8/2016) malam. Dengan menggunakan tiga buah mobil 11 petugas dari tim Satreskrim Polres Sleman dan Tim Opsnal Polda DIY melakukan penjemputan kepada pelaku di sebuah kos. Pada saat penangkapan polisi juga mengamankan sejumah barang bukti yang di taruh dalam sebuah tas.
“Pelaku kyai dini hari kemudian dibawa menuju kota Jogja,” kata Kapolres Sleman, AKBP Yulianto, Selasa (23/8/2016).
Dalam perjalanan tersangka yang dikawal oleh empat orang petugas dalam satu mobil merasa haus dan meminta minum kepada petugas saat perjalanan sampai didaerah Secang Magelang, Selasa pagi. Atas dasar rasa kemanusiaan akhirnya petugas membelikan air minum.
Namun dengan memanfaatkan kelengahan petugas saat membelikan minum, tersangka mengambil pisau yang menjadi barang bukti. Kemudian pelaku langsung menggunakan pisau tersebut untuk menikam tubuhnya bagian perut sebelah kiri.
Mengetahui aksi pelaku di dalam mobil, petugas kemudian segera melarikan tersangka menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Namun naas nyawa tersangka tidak dapat tertolong pada saat itu. “Kami masih belum tau tersangka itu meninggal di mobil atau dirumah sakit. Untuk saat ini jenazah masih dalam proses autopsi di RS Sardjito,” ujarnya.
Menurut keterangan petugas sementara, pada saat proses penangkapan selama dalam perjalanan juga tampak gelisah. “Mungkin pelaku sudah bingung karena memikirkan hukuman atas perbuatannya, tapi untuk kronologis lebih detail belum bisa dijelaskan oleh anggota yang mengikuti penangkapan karena petugas juga masih diperiksa,” katanya.
Kemudian, kata Kapolres, saat ini seluruh petugas yang ikut mengawal penangkapan tersangka juga sedang diperiksa oleh Propam Polda DIY. Dan jika benar kejadian ini ada unsur kelalaian dari petugas maka Kabig Propam akan memproses sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sementara itu Kabid Propam Polda DIY AKBP Dheny Dariyadi mengatakan saat ini para anggota masih dalam pemeriksaan, jika memang ada faktor kelalaian petugas maka Propam siap melakukan hukuman disiplin. “Namun kita akan lihat dulu bagaimana nanti pemeriksaan, karena masih running terus sampai saat ini. Pemeriksaan ada yang dilapangan dan di Polda pati,” ujarnya.

Powered by WPeMatico

Bocah Diduga Jadi Korban Sodomi Tiga Teman

SODOMI DI PATI brebes- Tiga anak warga Desa Kaligangsa Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes dilaporkan ke Polres Brebes pati. Mereka diduga telah melakukan pencabulan terhadap lima teman sebaya yang tiap harinya bermain bersama- sama.
Ketiga anak yang dilaporkan tersebut yakni EG kyai (12), RZ kyai (13), dan RM kyai (12) telah dilaporkan dua dari lima orangtua korban. Mereka diduga melakukan tindak asusila terhadap teman bermain yang masih duduk di bangku SD pati dan SMP pati.

Seorang nenek korban, Sri (50) mengatakan ia mengetahui kasus tersebut saat cucunya yang berinisial G (12) tidak mau lagi bermain dengan ketiga teman sebayanya itu.
“Saya tanya alasannya kenapa. Awalnya, cucu saya tidak mau menjawab, namun setelah saya desak, akhirnya ia mengaku. Cucu saya mengatakan, katanya mereka jorok,” kata Sri, Kamis (12/1/2017).
Menurutnya, berdasarkan penuturan sang cucu, aksi yang dilakukan teman cucunya itu sudah berlangsung dua tahun terakhir ini. Ketiga anak yang diduga melakukan tindakan asusila itu melancarkan aksinya di tempat- tempat sepi, semisal di dalam kamar rumah atau di terowongan rel kereta api.
“Cucu saya mengatakan jika tidak melayani aksi bejat tiga anak itu, pasti akan dipukul. Kalau seperti itu, tentu saya marah dengan perbuatan tiga anak laki-laki tersebut,” terangnya.
Selain disodomi, cucunya kerap diminta memegang kemaluan tiga anak laki- laki itu. Selain itu, korban kerap dipaksa utuk melakukan oral seks sodomi.
Orangtua korban lain yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku sudah melaporkan tiga anak tersebut ke kepolisian. Ia ingin agar mereka jera dan tidak melakukan hal tercela tersebut.
“Anak- anak kami dipaksa untuk melakukan hal yang menjijikkan. Makanya, saya lapor ke polisi agar ada efek jera,” ucapnya.
Ia mengatakan, anaknya juga telah melakukan visum di rumah sakit sebagai bahan barang bukti untuk melaporkan kasus tersebut ke Polres Brebes pati. Pihaknya pun telah melaporkan tindakan tersebut pada Selasa (10/1/2017). (*)

Powered by WPeMatico

Bujang Tua Sodomi Bocah

Bujang Tua Sodomi Bocah
Selasa, 9 Mei 2017 – 01:02 WIB
M Najemi (29) warga kawasan Seberang Ulu (SU) 1, nekat menyodomi pati RA (14) bocah laki-laki yang dikenalnya di jalan.Tersangka saat diperiksa polisi/Adi H/KORAN SINDO

– M Najemi (29) warga kawasan Seberang Ulu (SU) 1, nekat menyodomi pati RA (14) bocah laki-laki yang dikenalnya di jalan. Akibatnya, bujangan yang tak lagi muda tersebut akhirnya harus berurusan ke Polresta Palembang, Senin (8/5/2017).
Informasi yang dihimpun, aksi sodomi yang dilakukan tersangka sedikitnya sudah berlangsung tiga kali. Terakhir, aksi tersebut dilakukan tersangka di kediaman kerabatnya di Jakabaring. Dengan modus memberi uang senilai Rp100 ribu, tersangka pun berhasil memperdaya kiai korban.
“Dia (tersangka) bilang akan kasih saya uang kalau saya mau diajak dan menemaninya menjaga rumah. Saya tidak tahu kalau dia mau begitu (sodomi), makanya saya mau,” ujar korban AR, ketika di Polresta Palembang.
Rupanya, lanjut AR, tiba di salah satu rumah di Jakabaring, tersangka pun langsung melancarkan aksinya. Tersangka memaksa agar korban melepaskan celananya dan melakukan perbuatan tak senonoh tersebut. “Saya sempat menolak pak, tapi dia terus memaksa saya,” ungkapnya. kyai
Sementara itu, tersangka Najemi mengaku perbuatannya dilakukan karena khilaf. “Khilaf saja. Tidak ada rencana melakukan itu,” tuturnya.
Menurut tersangka, aksi bejat tersebut cuma satu kali dilakukannya. Perbuatan itupun tak sampai menyodomi korban.
“Baru satu kali, itu juga saya cuma hisap punya dia saja,” tutur pria berkacamata ini. Usai melakukan aksinya, tersangka mengaku memberikan uang kepada korban. “Saya kasih uang karena dia yang minta. Saya kasih karena kasihan,” kilahnya.
Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara saat dikonfirmasi mengatakan, saat ini tersangka masih dalam pemeriksaan intensif pihaknya. “Sudah kita terima serahan tersangka. Masih kita lakukan pemeriksaan,” timpalnya

Powered by WPeMatico

sodomi warga pati

KARANGANYAR – Jumlah korban sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin, warga Tegalgede, Kecamatan Karanganyar Kota, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terus bertambah. Sampai saat ini tercatat ada 17 orang yang menjadi korban tindakan bejat yang dilakukan oleh pemulung tersebut.
Wakapolres Karanganyar Kompol Prawoko mengatakan, pada Kamis (23/3/2017) lalu ada seorang korban sodomi yang melapor ke Polres Karanganyar. Korban yang berusia 8 tahun itu datang dengan didampingi oleh kedua orang tuanya.
Kepada petugas, korban mengaku telah disodomi oleh Fajarudin di sebuah lokasi yang ada di Kabupaten Karanganyar beberapa waktu yang lalu. Saat ini, kondisi korban tersebut juga mengalami trauma seperti 16 korban lainnya.
Untuk memperkuat laporan, petugas juga telah mengambil visum  kyai et repertum pada tubuh korban sodomi. Hasil visum dan keterangan dari korban dan keluarga itu nantinya didalami untuk diambil langkah berikutnya baik untuk pendampingan atau penanganan lain.
Dengan adanya korban baru tersebut, saat ini jumlah korban menjadi 17 orang. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa terus bertambah, mengingat praktik sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin sudah dilakukan sejak tahun 2003.
Dia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat yang mengetahui adanya korban lain atau keluarganya menjadi korban untuk segera melapor ke Polres Karanganyar. Masyarakat tidak perlu risau atau malu karena identitas para korban sodomi dan keluarganya bakal dirahasiakan oleh petugas pati.
Tidak hanya itu, bagi korban yang melapor nantinya alam diberi pendampingan secara psikologis dan pengobatan luka fisik jika terjadi. Penanganan nantinya bakal dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karanganyar, Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak, serta beberapa lembaga swasta lain yang ada.
“Dari pengakuan tersangka ada 16 korban, namum ternyata jumlahnya bertambah lagi, mungkin tersangka lupa atau berbohong, nanti akan kita dalami lagi,” ucapnya, Sabtu (25/3/2017).
Kasatreskrim Polres Karanganyar AKP Rohmat mengatakan, sejauh ini korban semuanya adalah laki-laki. Namun tidak menutup kemungkinan korban tersebut ada yang wanita, karena tersangka juga mengaku suka dengan lawan jenis dan pernah melakukan hubungan badan beberapa kali.
“Segala kemungkinan bisa terjadi dan kita terus periksa tersangka,” ucapnya pati kyai.

Powered by WPeMatico

Kasus sodomi pati

Pati – Kasus pelecehan seksual atau pencabulan terhadap anak-anak di Kabupaten Pati, ternyata bagai gunung es. Satu persatu kasus tersebut muncul ke permukaan kyai.
Baru kemarin diberitakan ada suami dari seorang guru mengaji di Kecamatan Kota, Pati, yang diduga melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak peserta mengaji, kini satu lagi kasus serupa terjadi.
Kali ini kasusnya lebih membuat miris. Pasalnya, seorang perangkat desa yang berprofesi sebagai modin berinisial M, (57), warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, diduga melakukan tindak pencabulan kepada sedikitnya 18 bocah.
Perbuatan itu, dilakukan oleh oknum perangkat desa tersebut, dalam kurun waktu yang cukup lama. Diduga, perbuatan tidak senonoh itu dilakukan sejak empat tahun lalu. Korbannya rata-rata anak-anak yang berusia delapan tahun.
Kejadian ini terungkap, saat anak-anak yang menjadi korban tersebut, bercerita kepada orang tuanya masing-masing. Tepatnya pada bulan Maret 2016 lalu, kasusnya terbongkar.
Banyak orang tua yang kaget ketika mendapati anak-anaknya bercerita mengenai peristiwa itu. Kejadiannya lebih banyak di kediaman pelaku, karena anak-anak tersebut memang mengaji di tempat pelaku.
Saat itu, anak-anak tersebut menolak untuk datang lagi ke tempat sang guru mengaji. Penasaran kenapa anaknya tidak mau pergi mengaji, para orang tua kemudian bertanya mengenai hal itu.
Terkejutkan para orang tua tersebut, saat anak-anaknya bercerita sering diminta untuk ”memainkan” alat vital guru mengaji tersebut. Tentu saja, hal ini membuat marah warga.

Powered by WPeMatico

sodomi kyai

HABIB HOMO PART 2
Gatra berhasil memperoleh testimoni sejumlah korban. Salah satunya, sebut saja Mamat, yang mengaku dicabuli Hasan sejak 2002 sampai 2006, ketika berusia 18-22 tahun.
Modusnya belum separah korban pasca-2006. Saat punya hasrat, Hasan memanggil korban ke kamarnya via SMS, telepon, BlackBerry Messenger (BBM), atau pesan Facebook.
Saat sang HABIB HOMO mengajak oral seks: “spg yuk…”
Gatra memperoleh copy perbincangan pesan Facebook Hasan dengan akun “Mengemis Doa Kalian” dengan salah satu muridnya. Ada beberapa istilah dan kode khusus yang dipakai. Misalnya, Hasan mengajak “spg”, “dicolein”, membawa “vcd beef”, minta “ditelen”, “yg hot ok”, atau “musti lebih hebat mainnya”.
Pesan lain mengisyaratkan permintaan murid beraksi berdua di depan Hasan.
“Kami disuruh mijitin,” kata Mamat saat ditemui Gatra, Kamis pekan lalu, usai mengadu ke KPAI. Setelah memijit kaki, Mamat ditawari untuk dibersihkan hati dan nafsunya. “Saya disuruh nyium bibirnya, nelen ludahnya, dan nyium dadanya,” tutur Mamat.
Hasan minta diperlakukan bagaikan pacar Mamat. “Lampiasin semua nafsu ente ke ane kalau ente mau dijaga nafsunya sama ane,” kata Hasan, ditirukan Mamat. Hasan mengklaim, tindakan itu dilakukan dalam kapasitas sebagai wali. “Ini hal wali. Ane melakukan ini buat ngeredam nafsu ente supaya nggak liar,” tutur Hasan.
Awalnya Mamat pati percaya. Pada 2006, Mamat pati melawan. Lantaran diminta mencopot sarung Hasan. Tahun 2007, Mamat keluar dari NM. Ia tak bercerita kepada keluarga. “Saya malu,” katanya. Ketika kasus ini meledak pada 2011, Mamat tak bisa lagi menyimpannya. Apalagi, adik kandungnya, sebut saja Andi, 19 tahun, juga jadi santapan Hasan.
Andi dicabuli sejak 2006, ketika berusia 13 tahun. Mamat  pati marah besar. “Saya tidak bisa toleransi lagi. Ini bukan wali. Saya harus menghentikan,” ungkapnya, geram. Kepada Andi, Hasan meyakinkan hendak menghilangkan kejahatan dalam tubuhnya. “Daripada nanti kebejatan ente dibuka Allah di Padang Mahsyar, lebih baik dibuka ke ane. Biar ane yang nanggung,” kata Hasan.
“Adik saya disuruh cium bibir, nelen ludah, gigit lidah, kemaluannya dipegang-pegangin,” ungkap Mamat. Kepada korban lainnya, perilaku Hasan lebih buas. Hasan sampai melakukan sodomi dan oral sex. “Kalau oral, sampai ada gaya 69 segala,”papar Mamat.
Kepada korban, Hasan royal. Mereka diberi uang saku Rp 50.000 sampai Rp 700.000. Ada yang dikasih ponsel. Doktrin kewalian pembungkus aksi cabul itu, kata Mamat, disampaikan secara pribadi, tidak dalam pengajian terbuka.
Perilaku Hasan makin merajalela sejak 2006. “Karena dia mulai punya rumah sendiri,” katanya. Sebelum itu, Hasan menumpang tinggal berpindah-pindah pada sejumlah jamaah kaya pencinta habib. Pada 2002, menurut kyai Mamat, aksi cabul Hasan pernah terbongkar. Ada korban yang mengadu kepada keluarganya, tapi diselesaikan secara kekeluargaan. “Hasan ngaku dan taubat,” kata Mamat.
Kepada Mamat pati, Hasan pernah bilang, aksinya berhenti sendiri setelah menikah. kyai pati Mamat dan keluarga korban percaya dan sepakat meredamnya. Ternyata, setelah Hasan menikah pada 2004, aksinya berlanjut. Korban terbanyak adalah remaja yang sehari-hari tinggal di rumah Hasan di Gang Kahfi, Jagakarsa, untuk membantu operasional NM.
Salah satu korban yang dipaksa melakukan oral sex dan mengonani Hasan adalah Jeki, sebut saja begitu, sepupu Hasyim Assegaf, sosok berada yang pernah memfasilitas berdirinya NM. Gatra menemuinya usai melapor ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Selasa lalu. Aksi cabul Hasan, kata Jeki, untuk mengeluarkan setan dari tubuh korban.
Apakah korban menikmati? “Enggak, kami semua berat. Kami kayak dicuci otak, kalau nggak nurutin, nanti kualat,” kata Jeki kepada Taufiqurrohman dari Gatra. Ada keinginan keluar dari jerat Hasan. “Tapi kami tuh kaya terikat. Kami pengen keluar, tapi ada saja ancaman dalam batin. Ntar kami dimusuhin, dibilang durhaka, pokoknya diintimidasi,” katanya.
“Kami selama ini tertipu mata melihat dia punya murid ribuan, ditambah doktrin-doktrin itu.”
Selasa sore, saat di LPSK, Jeki tiba-tiba menerima BBM dari temannya yang masih bergabung di lingkaran Hasan. Sebut saja Isal. Ia menunjukkan gelagat ingin keluar. “Ana tidak bisa lagi bersandiwara atas hal ini. Ini fakta dan bukan hasud,” tulis Isal dalam BBM-nya kepada Jeki. Ia berharap, makin banyak temannya di lingkaran Hasan yang mau keluar.
Asrori S. Karni, Haris Firdaus, Mukhlison S. Widodo, dan Gandhi Achmad
[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]

Powered by WPeMatico