sodomi warga pati

KARANGANYAR – Jumlah korban sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin, warga Tegalgede, Kecamatan Karanganyar Kota, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terus bertambah. Sampai saat ini tercatat ada 17 orang yang menjadi korban tindakan bejat yang dilakukan oleh pemulung tersebut.
Wakapolres Karanganyar Kompol Prawoko mengatakan, pada Kamis (23/3/2017) lalu ada seorang korban sodomi yang melapor ke Polres Karanganyar. Korban yang berusia 8 tahun itu datang dengan didampingi oleh kedua orang tuanya.
Kepada petugas, korban mengaku telah disodomi oleh Fajarudin di sebuah lokasi yang ada di Kabupaten Karanganyar beberapa waktu yang lalu. Saat ini, kondisi korban tersebut juga mengalami trauma seperti 16 korban lainnya.
Untuk memperkuat laporan, petugas juga telah mengambil visum  kyai et repertum pada tubuh korban sodomi. Hasil visum dan keterangan dari korban dan keluarga itu nantinya didalami untuk diambil langkah berikutnya baik untuk pendampingan atau penanganan lain.
Dengan adanya korban baru tersebut, saat ini jumlah korban menjadi 17 orang. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa terus bertambah, mengingat praktik sodomi yang dilakukan oleh Fajarudin sudah dilakukan sejak tahun 2003.
Dia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat yang mengetahui adanya korban lain atau keluarganya menjadi korban untuk segera melapor ke Polres Karanganyar. Masyarakat tidak perlu risau atau malu karena identitas para korban sodomi dan keluarganya bakal dirahasiakan oleh petugas pati.
Tidak hanya itu, bagi korban yang melapor nantinya alam diberi pendampingan secara psikologis dan pengobatan luka fisik jika terjadi. Penanganan nantinya bakal dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Karanganyar, Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak, serta beberapa lembaga swasta lain yang ada.
“Dari pengakuan tersangka ada 16 korban, namum ternyata jumlahnya bertambah lagi, mungkin tersangka lupa atau berbohong, nanti akan kita dalami lagi,” ucapnya, Sabtu (25/3/2017).
Kasatreskrim Polres Karanganyar AKP Rohmat mengatakan, sejauh ini korban semuanya adalah laki-laki. Namun tidak menutup kemungkinan korban tersebut ada yang wanita, karena tersangka juga mengaku suka dengan lawan jenis dan pernah melakukan hubungan badan beberapa kali.
“Segala kemungkinan bisa terjadi dan kita terus periksa tersangka,” ucapnya pati kyai.

Powered by WPeMatico

Bujang Tua Sodomi Bocah

Bujang Tua Sodomi Bocah
Selasa, 9 Mei 2017 – 01:02 WIB
M Najemi (29) warga kawasan Seberang Ulu (SU) 1, nekat menyodomi pati RA (14) bocah laki-laki yang dikenalnya di jalan.Tersangka saat diperiksa polisi/Adi H/KORAN SINDO

– M Najemi (29) warga kawasan Seberang Ulu (SU) 1, nekat menyodomi pati RA (14) bocah laki-laki yang dikenalnya di jalan. Akibatnya, bujangan yang tak lagi muda tersebut akhirnya harus berurusan ke Polresta Palembang, Senin (8/5/2017).
Informasi yang dihimpun, aksi sodomi yang dilakukan tersangka sedikitnya sudah berlangsung tiga kali. Terakhir, aksi tersebut dilakukan tersangka di kediaman kerabatnya di Jakabaring. Dengan modus memberi uang senilai Rp100 ribu, tersangka pun berhasil memperdaya kiai korban.
“Dia (tersangka) bilang akan kasih saya uang kalau saya mau diajak dan menemaninya menjaga rumah. Saya tidak tahu kalau dia mau begitu (sodomi), makanya saya mau,” ujar korban AR, ketika di Polresta Palembang.
Rupanya, lanjut AR, tiba di salah satu rumah di Jakabaring, tersangka pun langsung melancarkan aksinya. Tersangka memaksa agar korban melepaskan celananya dan melakukan perbuatan tak senonoh tersebut. “Saya sempat menolak pak, tapi dia terus memaksa saya,” ungkapnya. kyai
Sementara itu, tersangka Najemi mengaku perbuatannya dilakukan karena khilaf. “Khilaf saja. Tidak ada rencana melakukan itu,” tuturnya.
Menurut tersangka, aksi bejat tersebut cuma satu kali dilakukannya. Perbuatan itupun tak sampai menyodomi korban.
“Baru satu kali, itu juga saya cuma hisap punya dia saja,” tutur pria berkacamata ini. Usai melakukan aksinya, tersangka mengaku memberikan uang kepada korban. “Saya kasih uang karena dia yang minta. Saya kasih karena kasihan,” kilahnya.
Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara saat dikonfirmasi mengatakan, saat ini tersangka masih dalam pemeriksaan intensif pihaknya. “Sudah kita terima serahan tersangka. Masih kita lakukan pemeriksaan,” timpalnya

Powered by WPeMatico

kasus sodomi pati

Ada banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi dewasa ini, tapi tidak semua korban mau dan berani melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Salah satu kasus pelecehan seksual yang cukup mendapat banyak sorotan adalah sodomi. Akibat dari sodomi sendiri bisa memengaruhi baik fisik maupun psikologis korbannya secara jangka panjang.
Sodomi adalah seks anal atau oral; atau aktivitas seksual antara manusia dan non-manusia (binatang); atau setiap aktivitas seksual untuk kesenangan semata. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sodomi adalah pencabulan dengan sesama jenis kelamin atau dengan binatang; sanggama antarmanusia secara oral atau anal, biasanya antarpria; semburit (persetubuhan sesama lelaki; perjantanan).

Dampak sodomi secara fisik dan psikis
Sodomi berdampak pada fisik dan mental korban. Secara fisik, korban bisa menderita penyakit kulit  pati eritema, fisura anal (anus robek), bekas luka perianal, kutil dubur, iritasi usus besar, dispepsia non ulkus (nyeri di perut bagian atas), nyeri perut kronis, nyeri panggul kronis, HIV, dan penyakit menular seksual. Korban juga dapat menderita gangguan otot anus seperti encopresis (buang kotoran di celana), dan nyeri saat buang air besar.
Sedangkan secara psikis, korban sodomi dapat menderita ketakutan, kecemasan, mudah marah, gangguan tidur, gangguan makan, merasa rendah diri, depresi,  memiliki ketakutan yang berlebihan, merasa gugup, stres, menyalahgunakan alkohol dan narkoba, memiliki masalah dalam hubungan intim, tidak berprestasi di kantor, hingga mencoba bunuh diri.
Bila sodomi terjadi pada anak-anak, bisa saja ia ketinggalan pelajaran di sekolah. Namun, pelecehan terhadap anak jarang terdeteksi karena mereka sering kali takut mengadukan perbuatan tidak menyenangkan yang dialami.
Dan jika yang menjadi korban sodomi adalah pria, ada tambahan efek samping jangka panjang. Contohnya merasa tertekan membuktikan kejantanannya secara fisik dan seksual, kehilangan kepercayaan diri pada kejantanannya, bingung dengan identitas seksualnya, takut menjadi homoseksual, hingga homofobia.
Hukum yang mengatur tindak kejahatan sodomi di Indonesia
Mengapa ada orang yang suka melakukan hubungan seksual lewat anal atau sodomi? Alasannya bermacam-macam, mulai dari menuntut kepuasan seksual dari pasangan, bingung dengan orientasi seksual sendiri, mempermalukan korban, hingga merasa memiliki kekuasaan pati dan kontrol terhadap korban.
 Istilah sodomi belum dikenal dalam hukum pidana di Indonesia. Walaupun belum diatur secara khusus, perbuatan sodomi dapat dikategorikan sebagai pencabulan pati. Sehingga dalam praktiknya, kasus sodomi dikenakan dengan pasal-pasal tentang pencabulan.
Pelaku pencabulan (termasuk sodomi) dapat dijerat Pasal 289 KUHP dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, Pasal 290 KUHP dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. Jika sodomi dilakukan sesama jenis terhadap anak di bawah umur, dengan pelaku adalah orang dewasa, pelaku tersebut akan dikenakan Pasal 292 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-selamanya lima tahun.
Sementara itu, perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak di bawah umur diatur secara khusus dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dengan denda paling banyak lima miliar rupiah.
Jangan ragu untuk melaporkan kepada pihak kepolisian jika Anda melihat, mendengar, atau mengalami tindak pelecehan seksual sodomi. Dan jangan lupa untuk menghubungi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) jika korban yang Anda kenal masih anak-anak.
 

kangsoma.com – Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati- Sahabat kangsoma sipa yang tidak kenal dengan sebuah desa yang berada di Pantura yang terkenal dengan pendidikan pondoknya, yang berisi dengan ribuan santri dan ulama-ulama’ besar dan para auliya’ salah satunya adalah simbah Mutamakin. Desa tersebuta ada di Kabuaten Pati sebelah Utara yaitu desa Margoyoso atau orang selalu menyebutnya dengan Kajen.

 Kali ini kangsoma akan menulis Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, beliau adalah pendiri dan pengasuh Pondok Terbesar di Kajen yaitu Pondok Matholi’ul Falah, langsung saja simak Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati,  diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW. Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.
Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.
Baca Juga : Sejarah Mbah Mutamaqin Kajen
 
Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.
 
Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang.
 
Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.
 
Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
 
Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah.
 
Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.
 
Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.
Baca Juga Sejarah  simbah Suyuti Pendiri Pondok Darul Ulum Guyangan
 
Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?
 
Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).
 
Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa– merupakan salah satu pantangan utama.
 
Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.
 
Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya.
 
Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu.
 
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.
 
Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
 
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
 
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”
 
“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
 
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata.
 
Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”
 
Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.
 
Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
 
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.
 
Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
 
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.
 
Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.
 
Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.
 
Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.
 
Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!
 
Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid dll.
 
Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

 
25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.
 
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”
Demikianlah Tulisan tentang  Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, Semoga bermanfaat

Powered by WPeMatico

Kiai angkat suara

Jakarta – Imam Besar kiai Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab, angkat suara terkait beredarnya foto atau video yang berisi percakapan diduga antara dirinya dengan seorang perempuan Firza Husein, yang mengandung kata-kata dan gambar pornografi, di media sosial.
“Baik, tentang beredarnya ada rekaman yang mengatasnamakan Firza Husein, juga saya, sekali lagi saya katakan itu semua adalah fitnah,” ujar Rizieq, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (1/2).
Dikatakannya. Firza Husein juga sudah menyampaikan bantahan melalui juru bicaranya, dan menolak kebenaran rekaman suara, foto atau chat yang ada pati.
“Sama sekali beliau tidak bertanggungjawab dan tidak tahu menahu, bahkan beliau marah dan akan melakukan penuntutan terhadap yang melakukan rekayasa itu,” ungkapnya.
Rizieq pun tak mau ambil pusing terkait beredarnya foto dan video rekaman suara itu.
“Ada pun soal fitnah semacam ini, saya ini sudah kenyang difitnah. Difitnah beristri enam, sodomi laskar, selingkuh sama perempuan, kemudian difitnah terima sogokan 100 miliar, difitnah serobot tanah negara, difitnah menghina Pancasila, anti Bhinneka Tunggal Ika, jadi sudah segudang yang ada. Jawaban saya atas fitnah-fitnah ini cukup, Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil, Ni’mal Maula Wa Ni’man Nasir,” katanya.

Powered by WPeMatico

sodomi kyai

HABIB HOMO PART 2
Gatra berhasil memperoleh testimoni sejumlah korban. Salah satunya, sebut saja Mamat, yang mengaku dicabuli Hasan sejak 2002 sampai 2006, ketika berusia 18-22 tahun.
Modusnya belum separah korban pasca-2006. Saat punya hasrat, Hasan memanggil korban ke kamarnya via SMS, telepon, BlackBerry Messenger (BBM), atau pesan Facebook.
Saat sang HABIB HOMO mengajak oral seks: “spg yuk…”
Gatra memperoleh copy perbincangan pesan Facebook Hasan dengan akun “Mengemis Doa Kalian” dengan salah satu muridnya. Ada beberapa istilah dan kode khusus yang dipakai. Misalnya, Hasan mengajak “spg”, “dicolein”, membawa “vcd beef”, minta “ditelen”, “yg hot ok”, atau “musti lebih hebat mainnya”.
Pesan lain mengisyaratkan permintaan murid beraksi berdua di depan Hasan.
“Kami disuruh mijitin,” kata Mamat saat ditemui Gatra, Kamis pekan lalu, usai mengadu ke KPAI. Setelah memijit kaki, Mamat ditawari untuk dibersihkan hati dan nafsunya. “Saya disuruh nyium bibirnya, nelen ludahnya, dan nyium dadanya,” tutur Mamat.
Hasan minta diperlakukan bagaikan pacar Mamat. “Lampiasin semua nafsu ente ke ane kalau ente mau dijaga nafsunya sama ane,” kata Hasan, ditirukan Mamat. Hasan mengklaim, tindakan itu dilakukan dalam kapasitas sebagai wali. “Ini hal wali. Ane melakukan ini buat ngeredam nafsu ente supaya nggak liar,” tutur Hasan.
Awalnya Mamat pati percaya. Pada 2006, Mamat pati melawan. Lantaran diminta mencopot sarung Hasan. Tahun 2007, Mamat keluar dari NM. Ia tak bercerita kepada keluarga. “Saya malu,” katanya. Ketika kasus ini meledak pada 2011, Mamat tak bisa lagi menyimpannya. Apalagi, adik kandungnya, sebut saja Andi, 19 tahun, juga jadi santapan Hasan.
Andi dicabuli sejak 2006, ketika berusia 13 tahun. Mamat  pati marah besar. “Saya tidak bisa toleransi lagi. Ini bukan wali. Saya harus menghentikan,” ungkapnya, geram. Kepada Andi, Hasan meyakinkan hendak menghilangkan kejahatan dalam tubuhnya. “Daripada nanti kebejatan ente dibuka Allah di Padang Mahsyar, lebih baik dibuka ke ane. Biar ane yang nanggung,” kata Hasan.
“Adik saya disuruh cium bibir, nelen ludah, gigit lidah, kemaluannya dipegang-pegangin,” ungkap Mamat. Kepada korban lainnya, perilaku Hasan lebih buas. Hasan sampai melakukan sodomi dan oral sex. “Kalau oral, sampai ada gaya 69 segala,”papar Mamat.
Kepada korban, Hasan royal. Mereka diberi uang saku Rp 50.000 sampai Rp 700.000. Ada yang dikasih ponsel. Doktrin kewalian pembungkus aksi cabul itu, kata Mamat, disampaikan secara pribadi, tidak dalam pengajian terbuka.
Perilaku Hasan makin merajalela sejak 2006. “Karena dia mulai punya rumah sendiri,” katanya. Sebelum itu, Hasan menumpang tinggal berpindah-pindah pada sejumlah jamaah kaya pencinta habib. Pada 2002, menurut kyai Mamat, aksi cabul Hasan pernah terbongkar. Ada korban yang mengadu kepada keluarganya, tapi diselesaikan secara kekeluargaan. “Hasan ngaku dan taubat,” kata Mamat.
Kepada Mamat pati, Hasan pernah bilang, aksinya berhenti sendiri setelah menikah. kyai pati Mamat dan keluarga korban percaya dan sepakat meredamnya. Ternyata, setelah Hasan menikah pada 2004, aksinya berlanjut. Korban terbanyak adalah remaja yang sehari-hari tinggal di rumah Hasan di Gang Kahfi, Jagakarsa, untuk membantu operasional NM.
Salah satu korban yang dipaksa melakukan oral sex dan mengonani Hasan adalah Jeki, sebut saja begitu, sepupu Hasyim Assegaf, sosok berada yang pernah memfasilitas berdirinya NM. Gatra menemuinya usai melapor ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Selasa lalu. Aksi cabul Hasan, kata Jeki, untuk mengeluarkan setan dari tubuh korban.
Apakah korban menikmati? “Enggak, kami semua berat. Kami kayak dicuci otak, kalau nggak nurutin, nanti kualat,” kata Jeki kepada Taufiqurrohman dari Gatra. Ada keinginan keluar dari jerat Hasan. “Tapi kami tuh kaya terikat. Kami pengen keluar, tapi ada saja ancaman dalam batin. Ntar kami dimusuhin, dibilang durhaka, pokoknya diintimidasi,” katanya.
“Kami selama ini tertipu mata melihat dia punya murid ribuan, ditambah doktrin-doktrin itu.”
Selasa sore, saat di LPSK, Jeki tiba-tiba menerima BBM dari temannya yang masih bergabung di lingkaran Hasan. Sebut saja Isal. Ia menunjukkan gelagat ingin keluar. “Ana tidak bisa lagi bersandiwara atas hal ini. Ini fakta dan bukan hasud,” tulis Isal dalam BBM-nya kepada Jeki. Ia berharap, makin banyak temannya di lingkaran Hasan yang mau keluar.
Asrori S. Karni, Haris Firdaus, Mukhlison S. Widodo, dan Gandhi Achmad
[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]

Powered by WPeMatico

Kyai sodomi lagi

Apa yang dilakukan seorang kyai ini sungguh keterlaluan. Bukannya menjadi guru dan panutan, ia justru merusak masa depan santrinya. Kini ustaz yang mengajar mengaji di salah satu pesantren, kawasan Seunuddon menjadi buruan polisi.
Pasalnya, ia dituding telah menjadi pelaku tunggal aksi sodomi, terhadap lima orang santrinya. Dalih si pendidik agama tersebut, ingin mentransfer kepintaran kepada korban-korbannya. Para ABG lugu itu hanya bisa pasrah, saat tubuhnya digauli sang guru.
Menurut sumber Metro Aceh (Grup JPNN), AF (30) kabur dari pati pesantren setelah perbuatan mesumnya terbongkar. Bahkan  korban kebejatan ustaz cabul itu diduga lebih dari 5 orang, diantaranya masih setingkat SMP.
Diketahui juga sosok AF merupakan seorang ustaz sekaligus pimpinan, di  sebuah pesantren di Seunuddon. Modus dilakukan sang ustaz yakni merayu muridnya dengan cara sederhana, bahwa korban akan pintar seperti dirinya bila mau tidur bersama.
Bocornya aksi memalukan itu bermula saat ada seseorang yang memuji AF,  dan dia dianggap piawai dalam mencegah kemaksiatan. Tapi pujian itu justru diolok-olok oleh seorang remaja, yang tak lain adalah mantan murid ustaz dan juga jadi korban. Isu tak sedap itu berhembus cepat, hingga-hingga korban lainnya pun angkat bicara. Dan kasus ini-pun bergulir ke polisi.
Sementara Kapolsek Seunuddon, AKP Mardan P yang dimintai keterangan koran ini membenarkan kejadian tersebut. Bahkan, pihaknya sudah memintai keterangan dari 5 orang korban. Sedangkan pelakunya sudah kabur.
“Benar adanya dugaan sodomi, dan pihak kita  telah memintai keterangan 5 orang korban yakni mantan santri di pesantren tersebut. Sedangkan, yang membuat laporan resmi hanya orang tua salah satu korban sodomi. Untuk sementara perkara masih dalam penyelidikan pihak kita,” kata kapolsek.
Berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi, kasus dugaan sodomi ini terakhir terjadi dalam sebulan terakhir. “Kita minta kepada pelaku agar menyerahkan diri saja. Sebab, kemana-pun melarikan diri, tetap akan ditemukan juga,” tandas Kapolsek

Powered by WPeMatico

Sodomi di PATI

Sodomi adalah istilah hukum yang digunakan dalam untuk merujuk kepada tindakan seks “tidak alami”, yang bergantung pada yuridiksinya dapat terdiri atas seks oral atau seks anal atau semua bentuk pertemuan organ non-kelamin dengan alat kelamin, baik dilakukan secara heteroseksual, homoseksual. tapi ternyata kejadian tentang kegiatan sodomi tidak ditemukan

Powered by WPeMatico

Pati sodomi

Sepertinya kasus-kasus seperti ini akhirnya akan mengalami nasib yang sama dengan kasus-kasus serupa yang dilakukan oleh seorang ulama, kyai atau pemuka agama. benarkah hukum tidak bisa menyentuh tokoh-tokoh ini.
ada di jatim, jateng, jogja, pati dan sebagainya.
Sodomi adalah istilah hukum yang digunakan dalam untuk merujuk kepada tindakan seks “tidak alami”, yang bergantung pada yuridiksinya dapat terdiri atas seks oral atau seks anal atau semua bentuk pertemuan organ non-kelamin dengan alat kelamin, baik dilakukan secara heteroseksual, homoseksual, atau antara manusia
 

Powered by WPeMatico